Dugaan intimidasi terhadap wartawan kembali menjadi perhatian. Kali ini, dugaan tersebut dialami Pimpinan Redaksi media online PortalTerkini.com, Manton, setelah medianya menerbitkan pemberitaan terkait proyek penanganan long segment pemeliharaan berkala, peningkatan dan rekonstruksi ruas Laosu-Lalimbue Jaya di Kecamatan Kapoiala, Kabupaten Konawe, dengan nilai proyek sekitar Rp8,1 miliar.
PortalTerkini.com sebelumnya menerbitkan sejumlah berita terkait proyek tersebut, di antaranya berjudul “Minim Pengawasan dan Abaikan K3: Proyek PUPR Konawe Rp8,1 Miliar Disorot, Disebut Milik Oknum Anggota DPRD Kendari” dan “Oknum Anggota Legislatif Ikut Bermain Proyek Senilai Rp8,1 Miliar di Konawe Tuai Sorotan”.
Manton menjelaskan, dalam pemberitaan tersebut pihak redaksi tidak mencantumkan nama maupun inisial anggota DPRD Kendari yang dimaksud. Namun, menurutnya, pihak yang merasa keberatan menganggap pemberitaan tersebut ditujukan kepadanya.
Menurut Manton, persoalan kemudian berlanjut dengan adanya pertemuan antara pihak redaksi dengan seorang pemuda yang disebut-sebut merupakan anak dari oknum anggota DPRD Kendari tersebut.
Pertemuan pertama berlangsung pada Senin (7/9/2026) di salah satu warung kopi di kawasan Kopi Raja. Pemuda tersebut datang bersama seorang rekannya dan disebut meminta agar pemberitaan mengenai proyek tersebut dihapus.
Manton mengatakan, pihaknya tidak bersedia menghapus pemberitaan hanya karena adanya permintaan dari pihak tertentu. Namun, redaksi tetap membuka ruang bagi pihak yang merasa dirugikan untuk menggunakan mekanisme hak jawab.
«“Kemarin kami sempat ketemu di warkop, dan dia minta agar berita kami dihapus. Tetapi kami sampaikan jangan ada upaya mengintervensi kinerja kami sebagai kontrol sosial. Tapi kami bisa menaikkan hak jawabnya, dan hak jawab ini sebagai apa atau yang mana,” tutur Manton.»
Ia menegaskan, pihak yang merasa keberatan terhadap pemberitaan dapat menyampaikan klarifikasi melalui mekanisme jurnalistik yang berlaku. Redaksi, kata dia, terbuka untuk memuat hak jawab maupun klarifikasi dari pihak yang berkepentingan.
Namun, pada Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 16.50 Wita, pemuda tersebut kembali datang ke lokasi yang sama menggunakan sepeda motor bersama rekannya.
Manton menyebut, dalam pertemuan kedua tersebut, pemuda itu kembali meminta agar pemberitaan dihapus. Ia juga menduga terdapat pernyataan bernada ancaman yang disampaikan di hadapan sejumlah wartawan lainnya.
“Oke kita main belakang, saya tandai mukamu. Saya masih mudaji, sama saya ko berurusan,” ucap pemuda tersebut sebagaimana ditirukan Manton.
Manton menyayangkan dugaan intimidasi tersebut. Menurutnya, setiap keberatan terhadap produk jurnalistik semestinya diselesaikan melalui mekanisme yang tersedia, bukan dengan tekanan ataupun ancaman terhadap wartawan.
“Kami sangat menyayangkan dengan adanya kejadian ini. Dan pada intinya, apabila terjadi sesuatu pada diri kami beserta keluarga maupun harta benda di kemudian hari, tak lain selain adanya dugaan bernada ancaman itu,” tutup Manton.
Hingga berita ini ditulis, keterangan dari pihak yang disebut dalam pemberitaan maupun pemuda yang diduga menyampaikan pernyataan tersebut belum diperoleh. Konfirmasi dari pihak terkait tetap diperlukan untuk memberikan perspektif yang berimbang atas dugaan intimidasi tersebut.