Suasana di SMAN 12 Konawe, Sulawesi Tenggara, diwarnai aksi protes puluhan siswa pada Senin (2/11/2026). Mereka secara terbuka menyuarakan penolakan terhadap kehadiran seorang guru perempuan berinisial WA yang berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Penolakan tersebut bahkan disampaikan langsung saat WA tiba di lingkungan sekolah. Sejumlah siswa terlihat melontarkan protes dan meminta agar guru tersebut tidak lagi berada di sekolah mereka.

Aksi itu diduga berkaitan dengan persoalan hukum yang tengah dihadapi WA. Namanya terseret dalam kasus dugaan perzinahan yang juga melibatkan seorang pria berinisial IS, yang diketahui merupakan rekan kerjanya di SMAN 15 Konawe, sebelumnya dikenal sebagai SMAN 1 Puriala.

Bagi para siswa, persoalan tersebut menjadi alasan munculnya kekecewaan. Mereka menilai seorang tenaga pendidik semestinya mampu menjaga sikap dan menjadi panutan, termasuk dalam kehidupan di luar sekolah.

Salah seorang siswa yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk keberatan terhadap kehadiran guru yang sedang menjadi sorotan akibat persoalan tersebut.

Sementara itu, Kepala SMAN 12 Konawe, Sumardin, membenarkan adanya penolakan dari sejumlah siswa. Namun, ia menjelaskan bahwa pihak sekolah tidak memiliki kewenangan untuk menentukan penempatan maupun status penugasan WA dan IS.

Menurutnya, kehadiran kedua guru tersebut di sekolah merupakan tindak lanjut atas instruksi Dinas Pendidikan dan Inspektorat Provinsi Sulawesi Tenggara.

Sumardin menegaskan, keduanya hanya diminta hadir untuk melakukan absensi dan tidak diberikan jadwal mengajar selama berada di sekolah.

Saat ini, persoalan yang melibatkan WA dan IS masih dalam proses pemeriksaan hukum serta penanganan kode etik di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara.

Di tengah proses tersebut, aksi penolakan para siswa menjadi sorotan tersendiri. Mereka berharap instansi terkait segera memberikan kejelasan mengenai status penugasan kedua guru tersebut agar situasi di lingkungan sekolah tidak terus berlarut.