Kondisi fasilitas mes pekerja PT Astima Konstruksi (Askon) pascakericuhan yang melibatkan warga lokal dan tenaga kerja perusahaan mulai terungkap melalui rekaman video yang beredar pada Minggu (8/11/2026).
Video tersebut memperlihatkan kondisi bagian dalam bangunan yang tampak mengalami kerusakan. Sejumlah bagian plafon dan rangka atap terlihat terbuka, beberapa kusen jendela bersandar di sisi ruangan, sementara lantai dipenuhi genangan air.
Pada sejumlah bagian dinding dan plafon juga terlihat bekas kehitaman. Selang air tampak membentang di lantai, sementara seseorang terlihat berada di dalam ruangan.
Kondisi tersebut kembali mengingatkan pada insiden kericuhan yang sebelumnya terjadi di kawasan operasional PT Askon, yang memiliki keterkaitan aktivitas pertambangan dengan wilayah Konawe Utara dan Morowali, Sulawesi Tengah.
Peristiwa bentrokan pada 2 Oktober 2026 itu dipicu persoalan dampak debu aktivitas pengangkutan material perusahaan. Insiden tersebut dilaporkan menyebabkan enam orang mengalami luka-luka, terdiri dari lima warga lokal dan satu tenaga kerja asing.
Perkembangan kasus ini turut menjadi perhatian karena aktivitas perusahaan berada dalam kawasan yang berkaitan dengan dua wilayah administrasi berbeda. Lokasi pertambangan di sisi Sulawesi Tenggara, sementara sebagian fasilitas pendukung aktivitas pengangkutan berada di wilayah Morowali.
Pemerintah Kabupaten Morowali bersama unsur Forkopimda sebelumnya juga telah menyepakati penghentian sementara aktivitas PT Askon sebagai tindak lanjut atas persoalan tersebut.
Bagi Konawe Utara, perkembangan ini menjadi perhatian tersendiri, terutama menyangkut pengawasan aktivitas pertambangan, kondisi fasilitas pekerja, serta kepastian penerapan standar keselamatan dan ketertiban di kawasan operasional perusahaan.
Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan resmi mengenai kondisi terkini fasilitas mes tersebut, termasuk penjelasan mengenai kerusakan yang terlihat dalam rekaman video.