Universitas Mandala Waluya (UMW) mendorong peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan kebersihan lingkungan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Desa Matanggonawe, Kecamatan Sawa, Kabupaten Konawe Utara.
Kegiatan yang dilaksanakan Program Studi D3 Sanitasi, Fakultas Sains dan Teknologi UMW tersebut menggabungkan edukasi pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat mendapatkan edukasi mengenai DBD, karakteristik dan perilaku nyamuk Aedes aegypti, tempat yang berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk, serta pentingnya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus.
UMW juga memperkenalkan Smart-Ovitrap berbasis Internet of Things (IoT) sebagai teknologi yang dapat membantu pemantauan keberadaan nyamuk di lingkungan masyarakat.
Dosen D3 Sanitasi UMW, Agus Kurniawan Putra, S.Pd., M.Si., mengatakan pencegahan DBD perlu dimulai dari lingkungan terdekat masyarakat.
“Pencegahan DBD perlu dimulai dari lingkungan terdekat kita. Melalui edukasi dan pengenalan Smart-Ovitrap berbasis IoT, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami bagaimana DBD dapat dicegah, tetapi juga mengenal alternatif teknologi yang dapat membantu pemantauan keberadaan nyamuk di lingkungan tempat tinggal,” ujar Agus.
Selain persoalan DBD, UMW juga mendorong masyarakat Matanggonawe untuk mengubah cara pandang terhadap sampah organik melalui pembangunan Rumah Kompos Terpadu.
Fasilitas tersebut diarahkan menjadi wadah masyarakat untuk memilah dan mengolah sampah rumah tangga, khususnya sampah organik seperti sisa makanan, daun, rumput, dan limbah pertanian.
Ketua Program Studi D3 Sanitasi UMW sekaligus dosen pelaksana kegiatan, La Ode Tasrun, SKM., M.Kes., mengatakan rumah kompos tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengolahan sampah, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan masyarakat.
“Rumah Kompos Terpadu ini bukan hanya sekadar tempat mengolah sampah, tetapi menjadi wadah pemberdayaan masyarakat untuk menciptakan lingkungan permukiman yang bersih, sekaligus menghasilkan kompos yang sangat bermanfaat bagi sektor pertanian lokal,” ujar Tasrun.
Dalam pelaksanaannya, dosen dan mahasiswa UMW memberikan edukasi mengenai teknik dasar pembuatan kompos, pemilahan bahan organik, pengaturan kelembapan dan aerasi, hingga mengenali kompos yang telah matang dan siap digunakan.
Mahasiswa D3 Sanitasi UMW juga turut memberikan penyuluhan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta pentingnya menjaga kebersihan lingkungan permukiman.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis, 1 Oktober 2026, di Desa Matanggonawe yang merupakan salah satu desa binaan Program Studi D3 Sanitasi UMW.
Melalui program tersebut, UMW berharap masyarakat dapat membangun pola pengelolaan lingkungan yang lebih mandiri, mulai dari mencegah perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD hingga mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang memiliki nilai manfaat bagi pertanian.
Program pendampingan juga direncanakan terus dilakukan agar Rumah Kompos Terpadu dapat berjalan secara optimal dan menjadi contoh pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat bagi desa lainnya di Konawe Utara.